Saya, islam & ilmu pengetahuan

Saya, islam & ilmu pengetahuan

Saya, islam & ilmu pengetahuan

Di era serba digital ini, manusia dengan mudahnya terseret dalam arus tanpa arah. Hidup dikendalikan oleh tren media sosial dan algoritma platform digital. Hari ini ramai tren A, esok sudah berubah menjadi B. Di balik layar ponsel, manusia perlahan menjauh dari pertanyaan paling mendasar: Siapa saya sebenarnya?

Prof. Bambang Sugiharto, dalam sebuah video e-course berdurasi sekitar 50 menit, mengajak kita merenung lebih dalam tentang krisis identitas manusia modern. Ia menyebut manusia zaman kini hidup dalam era tanpa batas, tanpa kategori yang jelas, tanpa otoritas yang membimbing. Dunia yang kabur antara nyata dan maya telah menciptakan kekacauan identitas. Bukan hanya karena banjir informasi, tapi juga karena nihilnya pengetahuan tentang diri sendiri.

Manusia modern, menurut Bambang, terjebak dalam kebosanan konsumerisme. Segalanya terasa datar, rutin, dan hambar. Maka muncullah dorongan untuk menjadi “berbeda”, heroik, monumental — kadang lewat cara-cara yang justru menambah kebingungan identitas itu sendiri.

Di tengah krisis ini, Islam sebenarnya telah lama menghadirkan alat untuk mengenal diri: ilmu, iman, dan perenungan jiwa. Al-Ghazali, dalam Kimiya-us-Saadah, membagi jiwa manusia menjadi tiga: jiwa binatang (nafsu), jiwa setan (destruktif), dan jiwa malaikat (spiritual). Manusia tidak bisa lari dari ketiganya. Tapi ia bisa memilih untuk menyeimbangkan dan mengendalikannya.

Hakikat “saya” bukan sekadar tubuh, alamat, pekerjaan, atau status. Ia terletak dalam potensi spiritual, dalam kecenderungan memilih jalan kebaikan, dan dalam kemampuan mengenali Tuhannya. Seperti sabda Nabi, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu.” Siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.

Ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam tidak sekadar alat eksplorasi dunia. Ia adalah jalan pulang. Dalam Islam dan Sekularisme, Prof. Al-Attas menjelaskan bahwa ilmu yang sejati menuntun manusia kembali pada perjanjian primordialnya dengan Tuhan. Bahwa hidup bukan sekadar bergerak, tapi kembali — pulang — pada hakikat keberadaan.

Namun, dalam derasnya informasi hari ini, jiwa manusia sering terperdaya oleh bisikan setan atau dorongan nafsu. Hati yang seharusnya menjadi tempat turunnya ilmu malah tertutup. Akal yang seharusnya menuntun, justru terombang-ambing oleh noise algoritmik.

Konsep lifelong learning atau pembelajar sepanjang hayat dalam Islam bukanlah jargon akademik. Ia adalah kebutuhan eksistensial. Karena selama manusia hidup, ia akan terus belajar untuk mengingat siapa dirinya, dan kepada siapa ia akan kembali.

Di dunia yang terus berubah ini, saya percaya satu hal: semakin dalam saya mengenal Islam dan ilmu, semakin dekat saya dengan hakikat “saya” yang sejati.

Tulisan ini masih penuh dengan kekurangan dan kesalahan, dan penulis tidak menutup diri untuk setiap kritik dan saran.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.