Sebulanan ini, linimasa media sosial kita dipenuhi oleh kata yang sudah sangat akrab di telinga: “taubat”. Kata ini mencuat kembali di tengah kondisi negeri yang didera dampak maksiat ekologis, mulai dari banjir, gempa, hingga bencana lainnya. Menariknya, istilah yang biasanya bergema di forum kajian umat Islam ini, kini digaungkan lebih keras dalam debat Cawapres hingga rapat kerja wakil rakyat oleh sosok yang sama, yakni Cak Imin.
Taubat sebenarnya telah menjadi kata yang jamak kita dengar. Secara etimologi, ia berarti “kembali”. Sedangkan secara terminologi syariat, taubat bermakna menyesal dengan sepenuh hati atas dosa masa lalu, memohon ampunan (istighfar) dengan lisan, menghentikan kemaksiatan secara fisik, serta bertekad kuat untuk tidak mengulanginya di masa depan. Namun, taubat yang sekadar memohon ampun tanpa memahami akar kesalahan berpotensi membuat pelakunya terjatuh pada lubang yang sama. Oleh karena itu, menyadari dan menyesali kesalahan adalah prasyarat mutlak di awal taubat.
Pentingnya menyadari kesalahan ini pula yang ditekankan oleh Philippa Perry dalam bukunya, The Book You Wish Your Parents Had Read. Sebelum melangkah jauh ke seluk-beluk pengasuhan, Perry mengawali dengan bab yang krusial: soal warisan parenting masa lalu yang menghantui kita sebagai orang tua sekaligus masa depan anak kita. Ia menjelaskan bahwa pendidikan anak dipengaruhi oleh dua hal utama, yaitu gen dan lingkungan, yang keduanya tidak jauh dari diri kita sebagai orang tua.
Tujuannya bukan untuk menjadi sempurna, melainkan untuk menjadi sadar bahwa kita adalah manusia yang tidak sempurna. Dengan kesadaran itu, kita bisa mengakui kekurangan tanpa rasa malu dan perlahan bangkit untuk berubah.
Sebagai seorang psikoterapis, cerita dan saran yang diutarakan Perry dalam buku ini terasa otoritatif, universal, dan objektif. Ia membedah bahwa kebanyakan perilaku tak pantas orang tua seperti ledakan amarah yang melampaui batas sering kali merupakan timbunan cara bela diri kita di masa kecil terhadap perasaan yang kita rasakan dulu.
Sikap anak yang memancing amarah sebenarnya hanyalah pembuka tabir atas perasaan masa lalu yang penuh kesepian, ketakutan, atau kecemburuan. Perry mengingatkan bahwa sering kali kita tidak marah pada apa yang dilakukan anak, melainkan pada perasaan tidak berdaya yang dibangkitkannya dalam diri kita. Jika dikaitkan dengan Taubat, di sinilah ‘taubat’ (mengakui dan menyadari kesalahan) berperan bukan sebagai penghakiman diri, melainkan sebagai keberanian untuk memeluk luka tersebut agar tidak tumpah kepada anak kita. Alih-alih berempati, orang tua sering memilih jalan pintas dengan marah, frustrasi, atau panik. Ini seperti rantai lingkar tanpa batas; sikap tersebut adalah dampak dari pengasuhan yang kita terima sebelumnya.
Perry menawarkan solusi melalui konsep Rupture and Repair (merusak dan memperbaiki) konsep yang dia ambil dari psikoterapis lain. Dalam hubungan yang intim dan penting seperti keluarga, terjadinya kesalahan asumsi atau menyakiti perasaan adalah hal yang tak terelakkan (rupture). Namun, yang terpenting bukanlah meratapi kesalahan tersebut, melainkan bagaimana kita bangkit untuk memperbaikinya (repair). Langkah awal dari tahap perbaikan ini adalah menyadari dan mengenali “suara batin” yang kadangkala penuh kenangan buruk, yang kemudian menjadi pemantik kesadaran untuk tidak mengulangi pola pengasuhan yang sama.
Dari kesadaran tersebut, kita bisa mulai mencari solusi. Misalnya dengan menuliskan hal-hal buruk yang dirasakan, serta mencoba untuk tidak mudah melabeli diri. Label “orang tua baik” sering kali membuat kita bersikap defensif sehingga kita berlindung di balik label tersebut padahal perilaku kita buruk.
Bagaimana mungkin kita memperbaiki kesalahan jika untuk mengakuinya saja kita merasa malu?
Kita perlu menyadari bahwa kita tidak sepenuhnya baik maupun sepenuhnya buruk; menjadi sosok pembelajar adalah jalan tengah di antara dua ekstrem tersebut.
Manusia tumbuh dan berkembang sepanjang waktu. Jauh lebih baik jika sebagai orang tua kita menggambarkan apa yang kita lihat dan menyampaikan apa yang kita hargai, alih-alih langsung menghakiminya.
Pernyataan soal menyadari dan menyesali kesalahan ini sekilas sangat mirip dengan konsep taubat dalam syariat. Kita tidak akan bisa bangkit dan menjauhi perbuatan buruk jika hanya meminta ampun tanpa tahu sisi mana yang dimintakan ampun. Tanpa pemahaman akar masalah, potensi meremehkan dosa akan semakin tinggi sehingga kita terus mengulanginya. Termasuk dalam konteks pengasuhan.
Jika akhir-akhir ini sedang naik daun istilah “taubat ekologis”, mungkin kita juga perlu menggaungkan istilah “taubat pengasuhan”. Dengan menyadari dan menyesali pola asuh yang keliru, akan timbul kehendak kuat untuk mencari solusi. Semoga ini menjadi titik awal perbaikan menuju generasi yang lebih baik di masa depan. Sebab, peradaban yang gemilang dan berjaya selalu dimulai dari keluarga.