Apakah normal setiap harinya manusia selalu terbayang-bayang oleh kegagalan? Gagal urusan pekerjaan, gagal dalam mengambil keputusan, gagal dalam urusan menghandle project, gagal dalam hubungan percintaan dan turunan kegagalan-kegagalan lainnya. Seperti sebuah kabut di atas gunung yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba hilang bergerak, apakah kegagalan ini hanya lintasan semata dalam pikiran?.
Membayangkan keadaan terburuk atau kegagalan, tidaklah selamanya baik, bahkan terkadang cenderung kontra-produktif. Sebagai seorang manusia, yang dibekali akal untuk berpikir, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan, bahkan pilihan untuk tidak memilih adalah sebuah pilihan, secara otomatis di antara kedua pilihan itu mengandung yang namanya kegagalan atau keberhasilan. Tapi kenapa pikiran ini selalu menyerang, bahkan terkadang menjadi seperti tumpukan pakaian kotor yang dibiarkan dalam sebuah bak, yang tak segera dicuci. Yang setiap dilewati hanya akan membebani, dan mengotori pandangan mata.
Apakah sebenarnya normal jika selalu berpikir tentang gagal? Atau pikiran buruk lainnya?. Jika dibilang normal dan lumrah itu bisa jadi benar adanya, karena memang sudah banyak orang dan tokoh yang berkata seperti itu. Seperti contohnya ungkapan :
Kegagalan adalah kegagalan ketika kita tidak mendapatkan pelajaran dari prosesnya dan berusaha untuk improve.
The point being: kegagalan itu normal, kegagalan itu nyata adanya, dan kegagalan itu bagian penting dari pengembangan diri.
You will never know how to win if you don’t lose.
Atau kata seseorang (kak zhafira),
Buat aku, ketika satu pintu tertutup untuk kita, aku percaya bahwa berarti kitanya yang belum menemukan kunci yang tepat.
Atau kata seseorang lainnya (Bams is a laid-backer),
Kegagalan bukanlah sesuatu yang intrinsik buruk atau memalukan. Ia hanya — ada — tanpa muatan makna yang berlebihan, kecuali yang kita sematkan padanya semata-mata kemudian.
Perasaan kecewa dan malu sering kali muncul bukan karena kegagalan itu sendiri, melainkan karena ekspektasi sosial yang telah terinternalisasi.
Kita merasa gagal bukan karena kita benar-benar hancur, tetapi karena kita membandingkan diri dengan narasi sukses yang diidolakan oleh masyarakat dan orang-orang sekitar — yang kemudian membuat kita hancur. Padahal, ekspektasi itu hanyalah konstruksi semata, dan kegagalan hanyalah suatu hasil akhir yang berat bobotnya sama dengan hasil-hasil lainnya.
Atau kata seseorang lainnya (Silvia Zukhruf Aini),
Kegagalan itu hal yang normal saja terjadi dalam hidup. Sesuatu yang memang telah menjadi milik kita, ia akan datang dengan sendirinya, mau sesulit apapun jalannya.
Jika saat ini belum mendapatkan sesuatu yang diinginkan, maka itu bukan milik kita. Entah di masa depan kita baru bisa memilikinya. Atau memang kita tidak akan pernah memilikinya, namun digantikan dengan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang kita inginkan saat ini.
Atau kata seseorang lainnya (Aziz Hubban),
Dengan memeluk kegagalan, kita membuka pintu bagi pertumbuhan tanpa batas. Setiap kegagalan adalah batu loncatan yang membawa kita lebih dekat pada tujuan kita. Mari kita ubah perspektif kita dan melihat kegagalan sebagai peluang untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.
Jangan biarkan kegagalan menghentikan langkahmu. Bangkitlah, hadapi tantangan dengan kepala tegak, dan teruslah berusaha. Ingat, keberhasilan terbesar seringkali dicapai setelah melewati berbagai rintangan.
Dan mungkin masih banyak lagi kutipan-kutipan, teori-teori yang bisa dikumpulkan untuk menangggapi kegagalan. Tapi sebenarnya sebagai seorang manusia, yang dikaruniai tuhan, wahyu, akal, hati, perasaan, dan sebagainya, seharusnya seperti apa kita menanggapi kegagalan?. Entahlah.
Mungkin penutup dari Gus Baha ini bisa menenangkan dan menentramkan jiwa setiap kali kabut kegagalan ini menghampiri hidup kita,
Agama itu untuk siapapun yang mempunyai harapan. Berapa orang yang mempunyai masalah besar, satu satunya yang menyembuhkan apa? harapan.
Ya, dengan harapan pada Tuhan kemudian diikuti melakukannya dengan sebaik mungkin, itu adalah penawar dari rasa takut dari negative thoughts termasuk didalamnya kegagalan.