Kemajuan itu ada, dan terkadang pandangan diri kita yang menyelubunginya. Boleh jadi karena ukuran ukuran yang di ciptakan orang lain maupun dari ketidak mampuan menelaah munculnya bibit bibit kemajuan. Dia mengulang lagi, Kemajuan itu ada, bukan pasti ada. Karena jika pasti, seringkali yang muncul adalah mendesakkan kemunculannya. Sececah celotehan ringkas dengan saiful amin, atau akrab di juluki Sam Oemar.
Terpaan semilir angin mengenai tubuh yang terselimuti jaket parasit biru muda, sedikit memberi kesejukan di tengah gerahnya sore itu. Satu gelas es teh leci menemani duduk santai menanti kedatangan tentor sekaligus kawan yang telah berjanjian sejak kemarin malam. “Besok kumpul ya di kedai, jamnya seperti biasa”, ujarnya dalam pesan blow whatsaap.
Seperempat, setengah hingga sejam menanti, tak kunjung ketara batang hidung tentor ini. kehendak hati meminta untuk pulang, tapi tak apalah, mencoba menyabarkan, sembari merambah berkas berkas kerjaan di komputer jinjing. Biarlah tak dapat jumpa tentor, tapi peninjauan pekerjaan terselesaikan.
Tampak seperti seorang sendiri yang tak ada teman, muncul dari arah punggung. Seorang lanang berperawakan tinggi, tidak terlampau gemuk, dan kurus. Dengan style yang nyentrik, celana cutbray, sepatu pantopel dan baju kemeja yang dilinting lengannya, dengan sebatang rokok di antara jari manis dan tengahnya. “Halo mas, nunggu Alif ya?” ujarnya. Ku jawab “Iya nih mas, dari tadi belum keliatan batang hidungnya, bilangnya bentar lagi si mas”. Duduklah dia di sebelah kanan ku, dengan duduk khas vincent.
“Kenalin mas aku Oemar”, dia membuka obrolan dengan perkenalan. “Ooo, iya mas kenalin juga aku hoase” balasku. “Ase mas?”, ucap dia dengan agak keanehan, mungkin karena nama yang cukup asing baginya. “Iya mas, Ase, Hehehe”, agak gugup juga berkenalan dengan seorang yang baru.
“Seneng buku juga mas?” tanya oemar padaku. “Penikmat si mas, cukup suka mas, hehe”, jawabku padanya, entah kenapa setiap berkenalan dengan orang baru, seringkali aku menimpalinya dengan tertawa tipis, untuk semakin akrab obrolannya atau lainnya aku pun kurang tau. Entah bagaimana alurnya, obrolanku dengannya terkesan seronok dan nyambung aja. Mungkin karena kesamaan pada beberapa terma atau beberapa bahasan.
“Kenapa mas? Kok jadi pilih pilih buku gitu? Tanya nya padaku. Setelah cukup panjang mukadimah obrolan dengannya, dia bertanya pertanyaan yang menarik. “Aku rasa, karena aku dapat pitawat dari guruku si mas, kalau sebelum menelaah dan membaca pikiran pikiran modern atau tokoh tokoh yang cenderung antroposentris dan semisalnya, kuatkan dulu keilmuan pondasi islam (terutama soal kalam dan aqidah, sampai mantik)” jawaban ini kudapat dari pituwat yang di ucapkan seorang sarjana muslim muda yaitu ustad Nuruddin, dan beberapa sarjana muslim lain seperti Prof Hamid, Dr Adian, Dr Syamsuddin.
Rokok ditangan kananya akan habis, mungkin tinggal beberapa sedot lagi. Tampak dari raut wajahnya yang berbeda, mungkin itu bentuk ketidak setujuan dia dengan permakluman yang ku ucapkan tadi. Dia menjawab dengan jawaban yang mungkin akan cukup panjang, dan aku hanya sekadar mengiyakan, karena beberapa ucapannya ada yang ku setujui, meskipun ada beberapa yang tidak kusetujui.
“Begini mas, Buku itu ibarat sosok seorang manusia yang diserupakan dengan tulisan tulisan yang berisi pemikiran, opini, selayang pandang dan semisalnya. Karena buku hakikatnya seorang manusia juga, dalam arti yang kujabarkan tadi, maka mengenal buku tanpa memandang latar belakang dan apapun hal lain dari nya adalah bentuk perintah dari Al Quran juga kan mas?”. Dia mengutip satu ayat “innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ụbaw wa qabā`ila lita’ārafụ, (Surah Al Hujurat : 13)”. “Di situ jelas kan ya mas, diantara bentuk perintah penciptaan kita, ya buat saling kenal, dan salah satu perantinya lewat buku. Lagipula mas, kalau dari awal sudah sangsi, menyekat diri dengan buku buku tertentu, seringkali yang muncul kecurigaan dan prasangka buruk, yang secara sebenarnya kita belum mengenal sosok yang di delegasikan lewat bentuk buku. Aku pribadi, membaca awal bukan dengan kecurigaan, tapi dengan penasaran, dari situ muncul ketertarikan untuk mengenal lebih dalam buku itu, mungkin di pembacaan selanjutnya, aku baru menelisik lebih dalam, mencari hikmah hikmah tersembunyi dan kemudian mencoba mewujudkan hikmah atau ide itu”.
“Acapkali diri kita tertutupi oleh ukuran ukuran orang lain, yang melihat obrolan obrolan seperti ini, bacaan bacaan yang ndakik ndakik, itu tidak ada artinya, tidak berdampak pada kemajuan. Kemajuan itu ada mas, Boleh jadi karena ukuran ukuran yang di ciptakan orang lain maupun dari ketidak mampuan menelaah munculnya bibit bibit kemajuan. Dan kemajuan itu ada mas, bukan pasti ada, tapi ada. Karena jika pasti, seringkali yang muncul adalah mendesakkan kemunculannya”.
“Pribadiku juga menganggap, bahwa dengan pengenalan lebih banyak sosok, lewat celotehan, lewat bacaan buku, artikel esai, sastra dan semisalnya itu semakin mengentalkan imanku mas”. “Dengan kenal lebih banyak, pribadiku lebih tau bagaimana bersikap, bagaimana memposisikan diri, bagaimana mengambil hikmah, menambah tebalnya rasa syukur dalam diri dan ini semakin membuatku mengenal lalu yakin jikalau dinamika kehidupan yang begitu indah ini dengan berbagai macam adalah bentuk kemahakuasaan tuhan”.
Takjubnya perasaanku akan penjelasan panjang lebarnya. Otakku tetiba terpikir untuk melanjutkan, “Menarik si mas, ooo iya, di ayat tadi juga setelah berkenalan Allah menutup ayatnya dengan indah”. Sontak bersamaan kami berucap “inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr”, ujung dari pengenalan dan pembacaan buku atau sosok seharusnya adalah kebaikan entah berupa hikmah, rasa syukur, pengetahuan baru, empati dan ujungya adalah ketakwaan kepada Allah.
Suara khas motor beat dari kejauhan terdengar. Ini menandakan bahwa sang tentor yang telah ditunggu dari tadi, akhirnya tiba juga. Ternyata dia selepas mengantar ibunya, dan jelas itu lebih utama dan paling utama dibanding hanya sekadar menjumpai kawannya. Lagipula petang itu ditemani semilir angin segar dan rindangnya pohon serta langit jingga menuju senja, ditemani curahan curahan hikmah dari celotehan singkat. Ahhh sungguh nikmat hari itu.
Celotehan, bacaan, pengenalan, pengentalan iman, dan ditutup dengan perubahan menuju kebaikan. Selayang pandang hikmah celotehan sore itu bersama Sam Oemar.
091024